Liburan Ini Tak Semenyenangkan Liburan Biasanya
Siapa
yang tak suka liburan? anak sekolah, mahasiswa, hingga karyawan atau pegadang
pasti menjawab “suka”, ya suka kalau liburannya sesuai ekspektasi mereka, bukan
sekedar liburan yang mendhem neng omah
tok koyok pitik angkrem hihihi. Wabah pandemik yang disebabkan virus
covid-19 ini tak tanggung-tanggung membuat manusia gempar dimana-mana, asalnya
dari Cina malah merembet ke negara asia terutama Indonesia, membuat sejumlah
pemerintah setempat melakukan karantina wilayah/lock down demi mencegah virus tersebut makin merajalela di tengah
hiruk pikuk manusia berkumpul.
Akhirnya para karyawan
terpaksa diliburkan, anak-anak sekolah dan kampus juga diliburkan dan
diberlakukan sistem work from home
atau belajar online. Mereka semua
dilarang keluar rumah jika bukan untuk alasan yang sangat penting, berbagai
media sama berlomba-lomba menyerukan #dirumah aja disertai public figure yang ikut menjadi ajang persuasi. Lantas bagaimana
dengan pedagang kecil kaki lima, pengusaha menengah ke bawah, tukang ojek atau
para buruh lainnya yang mendapat upah harian. Nasib mereka siapa yang akan
menanggung hariannya ketika tak lagi bekerja dan hanya mendapat belas kasih
atau sumbangan orang-orang tertentu. Tentu hal ini merugikan jika melihat
dampak negatifnya ketimbang dampak positif dari sebuah liburan.
Rasa kesal jadi
kemana-mana, semua orang mengeluh mengenai pendapatan mereka berkurang, sedikit
batuk dicurigai kena korona, jalanan terlalu sepi untuk disebut Jakarta,
orang-orang memakai masker dimana-mana padahal mana pernah kulihat manusia di
jalanan pakai masker, tentu perbandingannya lebih sedikit dari pada yang tidak
pakai masker namun saat ini kenyataan justru sebaliknya.
Gimana dengan nasib diriku?
Ya sama tho, kerjaan juga diliburkan sementara selama satu minggu, libur satu
minggu bukan tanpa apa-apa melainkan tetap menjadi admin karena tempatku
bekerja akan mengirim donasi berupa kue ke beberapa rumah sakit. Rasa jenuh
sudah menyerangku padahal baru 2 hari libur, seperti tanpa melakukan apa-apa, dirumah
ya nggak asal rebahan thok loh ya, saya juga nyuci baju, nyuci piring, ngurus
kucing, baca buku atau sesekali menulis yang bakal sering saya jadiin sambat di
liburan ini. “kurang menantang” kataku dalam hati, apa perlu ngajak orang gelud
biar menantang sekalian wkwk… ya gak gitu juga sih, itu namanya cari perkara.
Merasa bosan bukan serta merta ingin hura-hura di luar rumah kok, melainkan
butuh sesuatu atau suasana baru saja demi sebuah pencapaian hidup atau me time
tanpa diganggu oleh orang rumah sekali, tapi mana mungkin juga bisa me time lha wong tiap mau meditasi atau
seneng sendirian ada aja yang ganggu, “mbak minta hotspot dong” diganggu lagi
sama adek, “fir ini gimana cara download tugas punya adek kamu” ibu bertanya
demikian. Pekerjaan ibu rumah tangga mulai beralih jadi ngerjain tugas anak sd, emaknya pusing anaknya malah santai main game.
Merasa tak menghasilkan
apa-apa aku membuka bukuku, menulis beberapa kata dan meh rasane ambyar tidak bisa menghilangkan rasa bosan dan ketidakmoody-an aku ini. Aku mengambil
smartphone-ku, menyalakan recorder
merekam suaraku sendiri dan berbicara sendiri (ehh tunggu ini bukan gila kok)
masih waras pokoknya. Dan talk to self
menjadi self healing yang kadang luka
di hatinya suka kumat di waktu yang gak jelas seperti moody-an ini atau memikirkan masa lalu eh hehe. Lalu hasilnya
bagaimana? Perasaan lega muncul, penat sedikit berkurang seakan-akan punya
teman sambat padahal cuma hp tok dan sekarang punya alternatif pengobatan
sendiri di kala mood atau suasana
hati sedang tidak karuan. Oke baiklah mood
baik sudah dapat dikendalikan saatnya merencakan jurnal harian yang lebih
mengasyikkan dari pada sekedar rebahan lalu mainan hp yang ujung-ujungnya
paketan data makin menipis.
Dimulai dari
membereskan lemari yang bajunya sudah berantakan tak karuan, nyuci baju punya
seisi rumah, nyuci piring, meneruskan bacaaan buku atau novel setidaknya
minimal 1 bab saja hitung-hitung ada yang nyangkut di kepala, latihan baca
puisi di malam hari sampai suara serek dan nulis sambil ngantuk-ngantuk. Terus
mandiin kucing yang besok diperkirakan bakal kotor lagi, diselingi denger lagu
sambil baca scary story dari blog
orang. Waah lumayan nih diri sendiri jadi terhibur, merasa bermanfaat dan
kalaupun lelah juga karena melakukan sesuatu yang berarti.
Jadi sekarang
bagaimana? Tanyaku pada diri sendiri. Merasa sedikit baik, meskipun liburan
bakal lebih baik kalau covid-19 udah musnah dari muka bumi ini dan bisa pergi
sendirian kemana pun tanpa takut digiring pernyataan “awas kena virus nanti
malah nyusahin orang lagi”.

Komentar
Posting Komentar