Jadi Sarjana di Tengah Pandemi
Beberapa bulan yang lalu seorang lelaki menanyai saya perihal perkuliahan saya.
“Mba Safira apa sudah lulus kuliah?” kata lelaki itu yang tiba-tiba muncul dari belakang.
“Belum mas, masih tugas akhir."
“Semangat ya, dulu saya lulus sampai 14 semester loh” jawabnya santai.
“Haah..14 semester?”
“Tujuh tahun Fir..” teman saya menjawab.
Mengapa ia terlihat santai dan merasa bangga, apa saya mesti lulus dua kali lebih lama dari pada lelaki itu. Oh tidak saya bisa jadi donatur tetap kampus saya dong, kampus saya makin kaya nanti tapi fasilitas yang didapat gitu-gitu saja. Kini disaat kelulusan yang dinanti-nanti semua anggota wisudawan/wisudawati datang, tiba-tiba terjadilah sebuah malapetaka. “Hello I come, Let me to introduce my self, I'm Covid-19”.
Shit dasar makhluk pengganggu, kau mengacaukan hari indah kami. Sebentar ditahan dulu emosinya. Virus tersebut ciptaan Tuhan, tidak baik juga selalu menyalahkan keadaan dan mengeluh kenapa virus itu tidak lenyap dari muka bumi. Tapi kalau bukan ulah manusia pasti tidak akan sampai seviral ini.
Menjadi seorang sarjana di tengah pandemi ini ada untung dan ruginya. Ruginya yaitu sulit banget mengejar dosen untuk minta tanda tangan, gak pendemi saja sulitnya sudah bikin ngelus dada apalagi pas pandemi gini, mesti chat dosen dulu apakah berkenan jika rumahnya kita kunjungi dan selanjutnya kita baru datang. Coba bayangkan seperti saya dan teman saya yang mesti mengirimkan soft file skripsi bentuk CD ke kantor suaminya dosen karena mungkin dosen saya tidak berkenan jika rumahnya kami sambangi. Tidak sampai disitu saja beberapa drama yang harus dilalui wisudawan/wisudawati tahun 2020 termasuk saya ialah kesulitan dalam menebus ijazah, ada saja syarat yang membuat ribet mulai dari pengadaan seminar, iuran pembelian alat lab dan bayar cetak ijazah.
Setelah semua persyaratan tersebut usai dilakukan, maka kampus kami membagi beberapa mahasiswa/i untuk didata yang akan mengambil ijazah. Tentu jumlah mahasiswa/i yang datang ke kampus ini dibatasi pada hari yang telah ditentukan. Belum lagi kabar wisuda yang tidak pasti apakah akan dilakukan atau ditiadakan, terus uang mahasiswa/i yang sudah masuk ke rekening kampus gimana dong??(mengeryit dahi doang saya). Sementara keuntungan menurut saya ialah tidak perlu bolak balik ke kampus, jadi semua pengiriman persyaratan lewat online saja dan sudah ada PJ yang mengurusi kami.
“Fir kita bakalan wisuda gak ya?” kata Ilfa temanku.
“Aku masih positive thingking kok, udah bayar loh gak mungkin juga uang kita bakal kembali”
“Aku kayaknya kurang yakin deh, soalnya pandemi ini cukup panjang jadi aku merasa mendingan aku kasih hadiah untuk kamu sekarang aja” kata Ambar.
Dibalik obrolan tadi saya bersyukur karena teman-teman masih saling support satu sama lain. Bukti support kami ialah saling memberikan hadiah satu sama lain. Mengingat wisuda yang tidak ada kabar, maka pemberian hadiah pun alakadarnya. Saya punya teman seperjuangan sewaktu di lab, yaitu Ambar dan Uli mereka teman ngelab dari sore sampai malam, banyak cerita mulai dari autoklaf gosong, media NA saya ikutan gosong juga, Uli putus cinta eeh, hingga galaunya saya sampai bawa buku diary buat nulis dan hampir direbut sama Yudhi. Sementara Ilfa adalah temanku dari semester awal hingga lulus saat ini (teman main, teman ngopi di mana-mana). Sewaktu kami sidang aku membeli 2 buah coklat merek Ratu Perak, iya satu untuk Ilfa dan satu untuk Uli. Mereka berdua satu jadwal dalam sidang sementara aku dan Ambar sudah sidang lebih dulu sepekan yang lalu saat itu. Sayangnya Uli sudah pulang duluan, jadi aku hanya memberikan coklat itu kepada Ilfa. Tadinya aku ingin memberikan sebuah pita supaya kelihatan manis tapi pas dikasih kok kayaknya kurang pas, akhirnya pita yang sudah dipasang saya lepas kembali. Kurang lebih beginilah foto coklat dengan bumbu notes yang manis untuk Ilfa, gimana saya so sweet kan sebagai teman?
“Makasih Fira buat coklatnya” kata Ilfa.
“Lihat nih aku foto coklat beserta tulisan yang uwuw buat kamu hahaha” aku terkekeh.
“eh minta fotonya dong” Ilfa memintanya.
Kami bersuka ria merayakan kemenangan karena sudah lulus sidang. Kami juga berfoto seakan-akan saat itu bahagia cuma milik kita berdua haha. Sementara satu coklat yang untuk Uli saya bawa pulang, sayangnya saat itu saya benar-benar lelah, lelah hati karena pikiran dan emosi terkuras untuk belajar sidang, sewaktu sampai di rumah coklat tersebut malah patah. Tidak mungkin saya kasih untuk orang coklat yang sudah patah, sepertinya coklat itu memang rejeki untuk saya makan saat itu, lumayan kan pelipur badmood hehe. Hari itu memang bukan rejeki Uli untuk dapat coklat, untuk kado Ambar ia sudah request sendiri ingin minta dibelikan buku “Retorika” Aristoteles. Wah bukunya sudah jauh-jauh kubeli sebelum pandemi, nyatanya wisuda kami diundur hingga waktu yang belum ditentukan hingga buku tersebut saya baca namun tidak sampai selesai.
Tanpa sepengetahuan saya Ambar membelikan saya kado yang unik sekali, note book beserta printilannya yang vintage dan membuat saya sangat senang sekali waktu itu. Jadi sewaktu kami mengumpulkan berkas dan buku sumbangan ke kampus. Ambar langsung memberikan bingkisan kotak berwarna coklat, “oh mungkin isinya buku”batinku. Karena waktu itu saya hanya minta dibelikan note book saja. Namun sewaktu aku membukanya di rumah I'm so happy and speachleess. Do you want see?
Coba lihat penampakan pertama dari kado yang diberikan Ambar, simpel dan saya menyukainya. Setelah saya buka ternyata ada 2 pcs gliter berwarna pink dan putih ditambah dengan tali rajut yang membuat berekspektasi saya mesti berbuat apa dengan kedua benda ini. Mengingat saya suka bujo dan Ambar tau jika aku menyukai vintage lagi-lagi aku diberikan sebuah note book yang warnanya membuatku langsung berimajinasi hahaha. But truly I love it, thank you Ambar.
“Ambar, makasih banyak untuk kadonya. I’m so excited and really really love it, gak nyangka isinya vintage dan se-good looking itu” Ucap saya saat itu padanya.
“Iyaa hehe sama-sama Linta, enjoy ya”jawab Ambar Saat itu saya terus memandangi kado yang diberikan Ambar, rasanya sayang saja kalau langsung saya pakai. Entah kenapa sesenang itu mendapat sesuatu yang memang saya senangi dan saya inginkan sebagai hobi.
Lalu hari ini, sebuah paket datang ke rumah sepulang saya kerja ibu bilang jika paketanku sudah sampai, padahal saya tidak merasa pesan barang di toko online. Sewaktu dilihat tertulis nama pengirim Yulia Andhista, wah ini kado yang Uli janjikan waktu itu. Dia meminta alamat rumah saya untuk mengirimkan kado dan akhirnya sudah sampai.
Sebuah totebag berwarna hitam dengan gambar finger heart, disertai sebuah tulisan “Happy Graduation Linta Safira S. Farm…”membuat saya tersenyum. Saya senang dengan tulisan sederhana namun bermakna, bukan semata-mata sebuah kado yang diharapkan namun yang terpenting doa baik yang dihaturkan. Terima kasih teman-teman seperjuangan, meskipun ada teman saya lainnya yang tidak bisa lulus bersamaan dengan saya tapi dia tetap mensupport saya sewaktu sidang. Jujur masih berharap bisa wisuda dan foto bareng, semoga saja Allah mengabulkan permohonan sederhana ini.







Komentar
Posting Komentar