Ketika Overthinking

Ketika pikiranmu diracuni oleh kehidupan duniawi maka bersiap-siaplah untuk merasakan ketidaktenangan ini. Lagi makan kepikiran kerjaan belum selesai, lagi jajan kepikiran pengeluaran sehari-hari sudah banyak akhirnya jajan dikurangi, lagi mandi kepikiran masalah lain yang sebetulnya sepele. Eh ternyata nikmat banget jadi orang overthinking, nikmat pusingnya sampai ke ubun-ubun kepala.

Overthinking itu gak salah kok, orang yang overthinking bakalan terus mengindentifikasi masalah yang ia hadapi dan akan mulai melakukan sebuah perubahan dari hal yang mengganjal hatinya, itu kalau segi positif overthinking. Kalau negatifnya overthinking yang dilakukan terus-menerus tanpa jeda bisa mengganggu aktifivitas dan produktifitas dalam bekerja. Belum lagi ditambah dengan keruwetan lainnya ya makin-makin deh.

Mentorku bilang overthinking itu boleh dilakukan asalkan memberi jeda waktu. Jadi misalnya overthinking yang paling enak itu ketika malam hari ya sudah mulai pagi hingga menjelang sore kita fokus dengan pekerjaan atau rutinitas setelah itu pada malam harinya kegiatan overthinking bisa dilakukan. Tapi memang dasarnya pikiran sulit diikat maka ketika sedang melamun atau bengong pun dia akan lari kemana-mana membuat kita mesti mengejar dengan mengikatnya lagi. 

Kekuatan overthinking itu emang dahsyat ya, coba aja gak ada hujan atau angin seseorang bisa nangis tiba-tiba, setelahnya muncul jerawat di wajah pertanda kenaikan hormon kortisol akibat stress. Bukan main ketika orang lebih memilih tenggelam sama pikirannya sendiri ketimbang tenggelam saat berenang haha (pengalaman pribadi kayaknya). Mungkin cara ternikmat menguranginya ialah dengan duduk sendiri, mengosongkan pikiran sembari minum teh atau kopi hangat tanpa melakukan apapun dan memikirkan apapun. Jangan lupa matikan handphone sementara dulu karena ketika handphone aktif kembali rasanya penuh sekali, notifikasi yang masuk membuat penasaran untuk dibaca atau ada pesan WhatsApp masuk yang mesti dibalas. Kenapa ya hidup harus setergesa seperti ini?

Ketika gadget jadi sebuah pelarian sementara ( nulis juga di gadget sih -_-) semua orang mencarinya sebagai bentuk penilaian atau ajang lempar batu sembunyi tangan. Kita lupa bahwa makna komunikasi itu paling tepat melalui tatap muka atau merangkul lengan. Sampai kaku sendiri kalau dipeluk sama temen, karena sewaktu akrab dulu sering rangkulan kalau sekarang seringnya sebatas senggolan doang.


Komentar

Postingan Populer