Keresahan di Umur Kepala Dua
Usia kepala dua sering dijadikan acuan seseorang memasuki masa dewasa muda, yang artinya seseorang siap secara fisik dan mental menghadapi dunia luar yang lebih esktrem. Sewaktu masih sekolah semangat belajar sangat menggebu-gebu hingga menjelang kuliah keinginan untuk mencapai prestasi akademik itu masih ada. Tapi karena aku kuliah sambil bekerja kadang rasa lelah itu menutupi rasa semangat
Dulu saat pertama kali bekerja rasa semangat itu memuncak membayangkan serunya memiliki partner baru, pengalaman kerja hingga dapat gaji. Tapi dunia tidak semenarik itu rupanya ada gaji ada sesuatu yang harus dikorbankan juga terutama waktu, tenaga dan pikiran. Memang kalau kerja itu kayak sekolah apa yang kalau ada masalah bisa dibantuin sama guru BK? Ada masalah dengan customer aku hadapi sendiri, gak cocok sama partner ya mesti adaptasi dulu awalnya, punya atasan tapi suka bikin drama ya udah tontonin aja yang mana jadi pemeran protagonis dan antagonisnya hahaha .
Makin lama aku sadar umur makin bertambah, muka sudah tidak baby face lagi tapi masih merasa muda tiap kali ditanya berapa umurnya :-D. Aku makin sadar ada sesuatu yang berkurang, ada sesuatu yang berubah dan ada sesuatu yang mesti dimaknai. Apakah aku akan terus minta uang dengan orang tua? Apakah aku akan bisa menjadi seseorang dewasa dengan finansial yang mapan? Pertanyaan itu terbayang-bayang hingga membuatku bertekad untuk kerja keras. Suatu masa dimana aku sedang fokus dengan pekerjaan dan kuliah, lingkaran pertemananku satu per satu berkurang, entah lost kontak tak ada kabar hingga teman dekatku melepas status lajangnya. Sementara saya masih stagnan disini, terurai waktu mencari uang.
Sulit rasanya untuk seperti dulu lagi bahkan dulu yang dengan mudahnya membuat janji untuk sekedar bermain pun kini terhalang oleh urusan pribadi masing-masing.
Apakah aku senang ketika teman menikah? Iya tentu dong masa sih teman bahagia aku gak bahagia. Tapi ekspresi awal ketika teman dekat kasih undangan adalah sedih. Sedih karena aku bakalan jarang ketemu dia secara dia sudah punya tanggung jawab baru dan yang lebih sedih ketika teman dekat menikah aku gak bisa datang karena kebetulan dia rumahnya di luar kota. Aku gak bisa dengan mudahnya ambil cuti, alhasil badmood sendiri wkwk.
Sungguh waktu terasa kurang dan berharga tapi aku terkadang aku malah menyia-nyiakannya dengan kenikmatan yang semu. Jika yang berkurang ialah waktu dan pertemanan maka yang berubah dan dimaknai adalah pemikiran. Dulu merasa sangat kerdil dalam berpikir kini mulai meluaskan pengetahuan, aku jadi punya sudut pandang baru dalam menilai banyak hal. Diawal mengejar materi dan mimpi ketika masih sekolah, saat ini berubah haluan menjadi menjalani hidup tenang dengan tujuan mulia hahaha
Mengejar materi masih tetap ada tapi yang ditekankan gimana caranya bisa memanage uang dengan lebih baik kedepannya. Ketika punya masalah pribadi aku memilih pergi ke psikolog atau mentor saja karena jika curhat pun kadang mereka bingung atau malah sekedar mendengar tanpa memahami. Temanku bilang aku menjauh, tapi aku bilang aku tak menjauh karena melupakan, aku hanya butuh untuk menikmati duniaku. Merasa sama-sama takut mengganggu hingga jarang menyapa padahal kalau buat status saling melihat haduuh. Bukan berarti mereka tanpa arti, tapi adakalanya untuk mendapatkan pertemuan dengan kualitas bagus itu perlu ada kesempatan bagus juga. Iya kalau temen yang dicurhatin pernah diposisi yang sama, kalau enggak ya paling cuma bilang sabar doang.
Tapi aku baru memasuki akan memasuki umur seperempat abad, gak tau tahun berikutnya akan jadi apa. Kekhawatiran akan masa depan itu selalu ada, yang sering orang-orang bilang quarter life crisis. Bahkan aku sempet stress di awal kuliah karena merasa gak ada tujuan hidup. Saat ini juga masih suka stress tapi udah bisa diatasi biar gak berlebihan. Mungkin aku sedang futur (keimanan menurun) atau tak memiliki tujuan untuk mewarnai hidup. Lalu gimana aku mengatasinya?
1. Membuat list atau rencana selama satu tahun kedepan, ingin melakukan hal baik atau hal produktif apa.
2. Setiap bulan melakukan amal bisa dengan uang atau sekedar donor darah sekalipun.
3. Buat apa kerja tapi gak nikmatin hasil atau upgrade ilmu. Aku harus bisa jalan-jalan atau ikut seminar, minimal beli buku bagus buat dibaca.
4. Yang ini agak susah. Aku mesti ikhlas dan menahan emosi ketika keadaan sedang tidak mulus. Korek kalau kesulut api kan mudah terbakar, diri sendiri udah sabar tapi ada aja orang bikin kesel, marah dan kecewa. Oh “stoisisme” kamu mempengaruhi kendaliku untuk tidak gampang terpancing emosi. Tidak mudah menilai buruk orang lain dan memilih cari solusi. Sabar Fir bukannya orang yang kuat itu ialah orang yang bisa menahan amarah?
Kira-kira begitulah fase hidup di umur kepala dua ini.




Komentar
Posting Komentar