Puisi Malam Minggu

Minggu yang Menderai

Kau risau berkecamuk di akhir kalimat

Hujan mengalir dari sela-sela jari menutupi gelisahmu

Musim sedang tak baik kali ini

Membisu melawan kekalahan hati

Kau terjatuh di lubang sendiri


Liang Lahatmu

Dirimu benar-benar tak baik kala itu

Egomu lebih besar dari kepala, lebih keras dari batu 

Apakah hatimu tak menimbang-nimbang?

Tersemat penilaian besar dari mulut para manusia, tak pernah tahu keluarnya seperti apa

Kau nyaman dengan ego yang dibesarkan

Ditandu janji manis berlapis bohong besar

Sungguh kuat hatimu, sungguh mendustai dirimu kala itu

Kami seperti bocah yang diberi permen rasa obat tidur, menerima meski terlena

Ketika lubang yang digali membuatmu senang melihat orang terjatuh di dalamnya

Kau kubur dengan sumpah serapah dan ditaburi kembang tujuh rupa

Ingatlah ego yang menindih kepalamu, menindih hatimu hingga tak sadar lubang yang kau gali adalah liang lahatmu


Ajak Aku Main

Awan sedang bersedu dengan warnanya

Mendung menganggu janji kencan Sabtu ini

Aku mengetuk meja memanggil cerah datang

Bukan kau yang datang tapi kelebatan hujan menghadang

Suaramu memanggil namun bukan ajakan main

“nanti saja” katamu

Namun bajuku sudah basah tenggelam di kolam, dingin menyusuri jalan di kepala

Kolam ini ajak aku main, lebih asik dari ajakanmu

Sabtu ini langit boleh mendung tetapi hatiku tetap tersenyum









Komentar

Postingan Populer