Boleh Cemas Gak?

 Ada gemuruh di kepalaku, bersahutan saling menyambar. Cuaca apa yang sedang menimpaku malam ini?

Baiklah, tarik napas lalu hembuskan perlahan. Ambil kopi yang sudah diseduh lalu sruput dengan menghayati dan keluarkan desahan “aahh…”. Semoga membantu meringankan kecemasanku.

Kudapati pesan Whatsapp dari temanku yang memintaku meluangkan waktu bertemu dengannya, kudengar dia akan pindah rumah dengan jarak yang lebih jauh dari rumahku. Tentu hal ini menjadi alasan baginya untuk ingin bertemu denganku. Akupun menghitung jari dan berkata dalam hati “temanku berkurang satu” tidak berkurang secara kuantitas tapi kualitas dari hubungan kami selama ini. Aku tak begitu punya banyak teman dekat, kalau dihitung tak lebih dari 5 orang. Itupun aku jarang berkomunikasi dengan mereka, entahlah aku tak ingin menggubris atau digubris.

Lalu kenapa aku cemas?

Banyak hal yang ingin aku lakukan saat ini tapi belum dapat kufokuskan untuk melaksanakan satu hal dahulu. Lebih tepatnya aku belum kelar mengerjakan satu pekerjaan tapi langsung beralih ke pekerjaan lain, akhirnya hasil tidak memuaskan dan bagus. Rencana yang sudah dilist kadang tidak berjalan lancar hanya menghasilkan angan belaka. Bagusnya adalah aku masih bisa berpikir rasional saking rasionalnya malah berbuah kecemasan dan ketakutan. Kulihat tanggal di kalender ternyata aku sedang PMS, syukurlah ini tidak akan bertahan lama.

Saat ini aku sedang bingung dengan rencana yang kulakukan. Les toefl, latihan SKD CPNS, bertemu teman untuk ngobrol atau bahkan enggan berbicara pada orang sekitar hanya karena masalah mood. Kenapa aku ambil kalau pada akhirnya membuatku tidak jelas begini?

Pertama, les toefl itu aku ambil karena rasa penasaran sejauh apa kemampuan Bahasa Inggrisku ketika dilakukan test disamping itu sebagai bukti bahwa aku sudah melatih diriku dalam skill itu tapi akhir-akhir ini aku kurang bersemangat. Kedua, aku daftar cpns, ya ampun aku gak tau apa yang ada dipikiranku saat ini, ikut cpns itu hanya sekedar pelarianku saja karena aku ingin resign dari pekerjaanku. Padahal dulu aku sama sekali tidak tertarik ikut cpns dan disisi lain orang tuaku menginginkan aku jadi cpns dengan alasan nanti dapat tunjungan kesehatan, karir meningkat, pensiunan dan bla la bla (aku sudah pusing membayangkan jadi budak milik negara) tapi aku sekarang malah mencoba terjun. Aku tidak peduli akan lulus SKD atau tidak, sekali lagi aku hanya penasaran.  Ketiga, aku semakin cuek dengan orang disekitar tidak terlalu mau ikut campur tapi aku masih suka memperhatikan mereka hanya saja untuk sekedar “say hai” sudah malas aku lakukan. Paling bagus aku hanya tersenyum atau mengganggukkan kepala, mau menyapa saja itu sudah kuanggap diriku ramah. Bukan bermaksud tidak sopan atau tidak ramah, hanya saja untuk menyapa orang yang tidak kuanggap memberi feedback baik untuk apa kulakukan, mungkin aku cuek atau egois, ah terserah dengan penilaian orang.

Sebelum kulanjutkan ceritaku lagi, ijinkan aku menyeruput kopi yang sudah tidak hangat ini. Mungkin kopi ini turut menyebabkan rasa cemas di dada hingga mengembang ke atas kepala, inilah cemasku berikutnya. Supaya tidak terlalu cemas kuputar dulu lagu band PADI.

Kuingat-ingat dulu artikel yang pernah kubaca, semakin bertambah umur seseorang maka circle temannya semakin berkurang. Benar banget sih, dari lulus sekolah sudah kelihatan mana yang menjauh perlahan atau tiba-tiba menghilang dan datang hanya karena butuh saja. Dulu ketika temanku belum menikah kami akrab dan suka berbagi cerita, sekarang ketika mereka menikah sudah tidak ada lagi pertemuan lama atau cerita tentang gebetan. Oh sekarang kan mereka sudah ada pundak bersandar. Tersisalah aku ditinggal sendirian dalam kenikmatan yang kuciptakan, aku masih senang melajang. Aku tidak iri dengan mereka yang menikah muda, aku bisa bebas dengan siapapun dan kemanapun. Aku seperti burung yang baru dilepas dalam sangkar, ingin terbangnya lama sekalii.

Namun burung yang terbang itu juga ingin menemukan rumah yang nyaman baginya, teman berbagi kehangatan tapi belum ada yang cocok. Temanku datang untuk bercerita, sementara aku tak bisa bercerita banyak hal kayaknya lebih suka memendam untuk ditulis saja. Aku merasa diriku aneh, tapi mereka bilang diriku menarik (membela diri hehe). Aku pernah berpikir aku ini hanya buangan emosi dari orang-orang sekitar saja, mereka bisa curhat padaku dan aku bisa mendengarkan atau sedikit memberi saran. Tapi aku sendiri sulit bercerita dan mendapat saran, aku krisis kepercayaan sehingga untuk bercerita saja tidak yakin. Ah itu hanya delusiku saja, akunya saja yang tidak mau memberi rasa percaya.

Pesan dari temanku belum kubalas, masih bingung akan mengajaknya pergi kemana atau nanti ketika bertemu aku mau bahas apa. Oh kutanyakan saja "kenapa kamu jarang menghubungi aku?" Eh itu akunya yang terlalu egois minta dihubungi duluan. Gimana kalau ini “kenapa suami kamu jarang mau ngobrol sama aku? Gak kayak suaminya teman aku yang lain?” please deh Linta karakter orang kan beda-beda, kalau dirilu aja bilang introvert dan gak mau gubris orang kenapa nilai orang kayak gitu haha

Sudah mungkin segitu aja cerita cemas malam ini, lumayan cemasnya bikin gak bisa tidur. Terima kasih kopi sachet, kopi seduh dan kopi ramah di kantong yang sudah membuat dadaku mengembang.:D

Komentar

Postingan Populer