Cemas Tak Kunjung Reda
Malam ini rasanya abu-abu seperti malam sebelumnya hanya saja ritmenya berbeda. Lagu yang kuputar membuat suasana hatiku lebih baik ditambah dengan segelas teh hangat membuat malam makin syahdu untuk dinikmati.
Why am I strolling alone in the middle of the night?
Maybe all I want is a cold, a cold night air
Every dream that we drew fall from the sky
Oh no, I need a call
The Fin – Night Time
Bulan ini berlalu dengan tak nyaman. Pekerjaan kurang bagus karena beberapa kali melakukan kesalahan, tidak teliti atau tidak fokus.
Lebih banyak memikirkan sesuatu yang belum pasti alias menghayal, aku merasa
konyol dengan perbuatan tersebut, terkesan sia-sia. Aku cemas dengan apa yang belum
terjadi, merasa tak becus dan kehilangan rasa semangat.
Rasa tak karuan ini memicu perasaan moody-ku yang timbul tenggelam, jadi untuk
melakukan sesuatu malas sekali. Karena sudah tidak tahan akhirnya aku melakukan
konsul dengan mentor Satu Persen. Kupilih di jam sore sehabis pulang kerja, aku
berusaha fokus menyelesaikan pekerjaan hari itu dengan baik karena tidak ingin diganggu
jika ada hal yang belum terselesaikan.
Sebelumnya aku sudah pernah mentoring di Satu Persen untuk
menangani masalah overthingking-ku, cukup memberikan hasil baik dan kini aku
kembali dengan masalah lainnya. Cemas yang membuatku menuntut lebih dari apa
yang sudah kulakukan. Pertanyaan yang ada di kepala “kenapa aku tidak bekerja
di tempat yang semestinya? Kenapa yang sedang kujalani hasilnya begini?”
Permintaan dari diriku sendiri yang belum bisa kupenuhi. Hal
paling lemah bukan tidak bersyukur tapi seringnya melihat keatas untuk
membandingkan diri sendiri dengan kehidupan orang lain. Ada beberapa keluhan
selain rasa cemas yaitu tidak fokus, memendam emosi dan menghindari masalah.
Jam 17.30 aku memulai percakapan dengan mentor. Mentorku
mendengarkan dengan seksama, setelah aku bercerita keluhan pertama ia mengatakan
keinginanku yang masih abstrak dan belum terstruktur dengan baik jadi aku
disuruh break down dahulu. Break down disini aku perlu mencari kembali tujuan awalku
mau apa, jangan tergesa-gesa hanya karena melihat orang lain. Benar si mungkin
disini cukup disadarkan tapi tidak tahu harus menunggu kapan break down
dilakukan dan kapan harus memulai lagi. Hanya aku yang tahu kapan siap
memulainya.
Mengkhayal yang kulakukan tak memberi arti, itu hanya
pelarian ketika aku sedang penat jadi aku menciptakan gambaran sendiri di
kepalaku perihal sebuah kesenangan. Sembari aku menulis ini aku pun masih
menciptakan gambaran baru di kepala.
You scoop sand so life won't come away
And run it into an hourglass
You're looking for someone so
life won't come away
And wind up a screw of the clock, taking deep breath
There's a broken pen without
any inks
You haven't got things to write or there's no need to write
Faded paints, it's like your
adolescence
Peace of mind, you had felt, is
hidden in the faded light
The Fin – Faded Light
Lagu kedua yang kuputar setelah Night Time. Semuanya terasa pudar, tinta tujuanku habis tak ada yang terlihat di permukaan. Barang kali sedang terkubur rasa malas, Tuhan sengaja membuatku menggali dan menebalkannya. Belum sempat menggali tujuan pertama, aku sudah lari ke tujuan kedua tidak konsisten, mudah tertekan dengan penilaian orang lain. Aku sendiri punya rencana namun belum terlaksana. “kamu coba fokuskan pada diri sendiri dulu ya, jangan terlalu memikirkan ucapan atau penilaian orang lain. Tetaplah stabil dalam tujuan yang mau kamu capai. Semua orang itu jalannya beda-beda.” kata mentorku.
Aku diam sejenak, suara bising dari jalanan mulai terdengar membuat fokusku hilang. Karena aku voice call di luar ruangan jadi suara dari luar ikut campur aduk, aku mesti mengeraskan suaraku lalu menyeruput es kopi dan fokus kembali.
Perkara selanjutnya yang aku ceritakan ialah memendam emosi, kukatakan bahwa aku bukanlah tipe orang yang langsung mengutarakan pada saat kejadian perlu jeda untuk berpikir. Jika emosi yang tak bisa keluar maka hal yang terjadi perasaan naik turun, uring-uringan dan tidak fokus dalam menjalani sesuatu. Meskipun aku mencoba nulis untuk meluapkan emosi tetap saja tidak sepenuhnya bisa keluar karena aku butuh orang yang bisa menimpali, memberi respon dari yang kuutarakan.
“Kamu tidak bisa membatasi apa yang orang lain inginkan, mereka bisa berkata atau berbuat semaunya dan kamu tentu tidak dapat mengendalikan kondisi tersebut. Poin pentingnya ada di kamu sendiri untuk ambil keputusannya kayak gimana.” Kata mentor.
“Aku menyadari disaat aku tidak menyukai atau membenci orang aku akan menghindari mereka, aku akan memotong ranting sosial, dan berusaha menerima. Namun untuk melupakan akan susah sekali.”
“Kamu ngelakuin itu gapapa selama kamu nyaman dan tidak merugikan orang lain. Perlu diingat kita tidak mungkin melupakan seluruhnya hal yang menyakitkan, setidaknya ketika kamu menerima dan memaafkan kamu tidak akan sesakit itu untuk mengingatnya kembali.”
Lagi-lagi aku menghela napas masih ada hal yang mengganjal, cuma aku gak mau menulisnya disini hehe. Ini aku ngomong sama mentor udah kayak curhat ke temen sendiri, lha wong mentornya seumuran aku kok. Aku juga gak kepikiran kalau dapat yang sebaya, jadilah kita ngobrol 70 menitan lebih, biasanya aku yang mendengarkan sambatan orang lain untuk kali ini aku sambat ngalor ngidul sama mentor.
Ku akhiri sesi mentoring karena sudah melebihi jam yang terjadwal tidak lupa terima kasih yang setulus-tulusnya buat mentor yang sudah membantu. Aku tidak langsung pulang saat itu masih duduk sejenak di luaran cafe, rasanya belum mau pulang. Kutuliskan kembali apa saja yang sudah aku dengarkan tadi. Tulisan ini hanya garis besarnya saja selebihnya ada hal lain yang tidak ingin kutuliskan dan kujabarkan. Kiranya mungkin aku akan kembali lagi dengan cerita baru.


Komentar
Posting Komentar